Peka Terhadap Suara Tuhan dan Penderitaan Sesama
Bacaan hari minggu ini, 22 Februari 2026, menggambarkan kemenangan Yesus dicobai iblis di padang gurun setelah berpuasa empat puluh hari lamanya. Ia menunjukkan bahwa godaan bisa dikalahkan dengan firman, doa dan percaya pada Allah, sebagai kunci melawan dan mengalahkan godaan materi dan penyalahgunaan kuasa. (Mat. 4 : 1-11)
Dalam bacaan pertama (Kej. 3 : 1-7), menggambarkan suatu cerita yang kontras dengan cerita Yesus yang mengalami godaan di padang gurun dan memperoleh kemenangan atas kuasa dosa, dan tidak seperti Adam dan hawa yang mengalami godaan si iblis, dan mengalami kejatuhan ke dalam dosa karena mereka membiarkan tipu daya iblis masuk ke dalam hati mereka. Mereka tergoda oleh keinginan menjadi seperti Allah yang akhirnya kehilangan kepercayaan kepada-Nya.
Kemenangan Yesus membuktikan diri-Nya layak disebut sebagai Mesias yang taat total kepada Allah. Ia senantiasa membuktikan ketaatan-Nya dengan menggunakan Firman Allah. "Ada tertulis : Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah. Ada pula tertulis : janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!. Sembahlah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti."
Dan Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Roma, menjelaskan bahwa sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang, semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih Allah, dan karunia-Nya yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus ( Roma 5 : 12-19 )
Dosa bukanlah akhir dari segalanya dalam Kristus. Kita mempunyai kekuatan untuk memperbaharui diri dan melawan kuasa dosa yang merusak hubungan kita dengan Tuhan, sesama, dan ciptaan lainnya.
Teladan dan ketaatan Yesus kepada Allah menunjukkan bahwa Yesus memahami kelemahan manusia, dan melalui diri-Nya manusia diberikan kekuatan untuk menang atas godaan.
Memasuki Pekan Pertama Prapaskah lewat puasa, pantang, dan amal kasih ini, bukanlah sekadar kewajiban rohani, melainkan sarana untuk mendidik hati kita supaya lebih peka terhadap suara Tuhan dan penderitaan sesama.
Ketika kita memilih untuk menahan diri, berbagi dengan mereka yang kekurangan, dan melawan ketidakadilan, kita sedang meneladani Yesus Kristus yang setia pada kehendak Bapa.
Tuhan Memberkati
Raymundus Susanto
CIC-Jonggol
Bogor
Komentar
Posting Komentar