Bait Allah Yang Kudus Itu Adalah Kamu

Tiap tiap orang harus memperhatikan bagaimana ia harus membangun Gereja di atasnya, yang telah diletakkan oleh Yesus Kristus.

Hari minggu, 09 Nopember 2025, Gereja memasuki Pekan Biasa XXXII, dan juga memperingati Pesta Pemberkatan Gereja Basilik Lateran. 

Yang memiliki makna untuk memperingati kemerdekaan umat katolik dan perdamaian Gereja setelah era penganiayaan, serta menegaskan persatuan umat katolik di seluruh dunia dengan Paus sebagai pemimpinnya.

Pesta ini juga menekankan makna Gereja sebagai rumah doa, persekutuan umat, dan tempat untuk pertobatan serta pembaharuan rohani.

Senada dengan bacaan Injil Yohanes 2 : 13 -22, bercerita tentang Penyucian Bait Suci Allah oleh Yesus sebagai pemimpin, yang melambangkan peralihan dari sistem keagamaan dan ibadah yang terikat fisik ke ibadah yang sejati dengan hubungan langsung dengan Yesus sendiri. 

Yesus mendapati di Bait Suci Allah dipenuhi oleh para pedagang-pedagang lembu, kambing, domba, dan merpati, serta penukar - penukar uang, yang menyalahgunakan tempat ibadah menjadi tempat sarang kejahatan yang melawan kesucian rumah Tuhan.

Yesus membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka dari Bait Allah, Yesus marah dan menghamburkan uang penukaran serta membalikkan meja-meja mereka.

Yesus mengusir dan membalikkan meja-meja mereka adalah sebagai Simbol dari sebuah panggilan bagi kita untuk membersihkan "Bait" kehidupan pribadi dari hal-hal yang menghalangi hubungan dengan Allah, seperti kesenangan duniawi, demi untuk kepentingan diri sendiri, keserakahan, korupsi, dan kejahatan.

Gereja sebagai rumah Allah yang mengajak umat untuk bersekutu dengan Tuhan,  bukan hanya sebagai bangunan fisik, tetapi juga sebagai tempat kudus, di mana Tuhan hadir.

"Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan Bait Allah maka Allah akan membinasakan dia. Sebab Bait Allah adalah Kudus dan Bait Allah itu ialah kamu. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya, karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, Yaitu Yesus Kristus." (  1 Kor. 3 : 10b-11, 16-17 )

Oleh karena itu ibadah sejati menampilkan atau mewujudkan hubungan pribadi yang intim antara orang percaya dengan Tuhan. Dan kita dipanggil untuk menjaga kesucian hati, pikiran, dan perbuatan agar layak menjadi kediaman Allah, terus-menerus mengalami pembaharuan diri melalui pertobatan dan komitmen untuk hidup dalam terang dan kasih Kristus.

Kebangkitan Yesus menjadi bukti tertinggi, bahwa Dia bukan manusia biasa, melainkan Anak Allah, dan menjadi dasar bagi ibadah yang terpusat pada-Nya.

Demikian Kristus dalam setiap Ekaristi yang kita terima, memberi tanda hidup bahwa Bait Allah hadir dalam diri yang Ekaristis. Karena dengan mengikuti Ekaristi, kita menjadi pembawa kasih Kristus bagi sesama.

Tuhan Memberkati
Raymundus Susanto
CIC-Jonggol
Bogor



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peka Terhadap Suara Tuhan dan Penderitaan Sesama

Terbentang Jurang Yang Tak Terseberamgi

Kerendahan Hati Orang Ini Sebagai Orang Yang Dibenarkan Allah