Perubahan Rupa Yesus di Gunung Yang Tinggi

Hari ini, Minggu 01 Maret 2026, kita memasuki Pekan II Pra Paskah, kita diajak merenungkan bacaan Injil Matius 17 : 1-9, tentang kisah "Transfigurasi Yesus" (Perubahan Rupa Yesus) di gunung yang tinggi, di situ tampak kemuliaan Ilahi-Nya ditunjukkan kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes.

Perubahan rupa Yesus terjadi di depan mata mereka dengan wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.(Matius 17 : 2).

Transfigurasi Yesus mengarahkan kita pada Paskah, Yesus turun kembali ke dunia dari kemuliaan Ilahi-Nya menuju ke jalan salib, dan kebangkitan. Pesan Yesus ini mengingatkan ketiga murid-Nya untuk tidak menceritakan penglihatan tersebut kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati. (Matius 17 : 9)

Transfigurasi menjadi pengingat bahwa kemuliaan Tuhan tidak meniadakan penderitaan, namun kemuliaan diperoleh setelah kesetiaan memikul salib. Ia tidak tinggal dalam kemuliaan sesaat, tetapi memilih menggenapi misi-Nya melalui pengorbanan di dunia.

Peristiwa transfigurasi Yesus merupakan panggilan hidup bagi pengikut Yesus Kristus yang bangkit, berani, setia, dan taat dalam penderitaan. 

Kita mesti berani turun menghadapi realitas kehidupan yang tidak selalu baik-baik saja, menerima jalan salib kita menuju jalan Paskah, bertobat, berpuasa dan berderma bagi sesama. Demi mengikuti jalan keselamatan, kebenaran dan hidup yang kita peroleh dari-Nya. 

Bahwa salib bukanlah akhir, melainkan jalan menuju kemuliaan yang akan kita alami lewat perintah Allah melalui Yesus Kristus yang dimuliakan oleh-Nya ke tengah dunia nyata. 

Rasul Paulus menegaskan kepada jemaatnya melalui surat keduanya kepada Timotius :
"Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah. Dialah yang menyelamatkan dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman dan sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa (Kemuliaan di Sorga)" ( 2 Timotius 1 : 8-10)

"Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia." (Matius 17 : 5)

Tuhan Memberkati
Raymundus Susanto
CIC-Jonggol
Bogor 








Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peka Terhadap Suara Tuhan dan Penderitaan Sesama

Terbentang Jurang Yang Tak Terseberamgi

Kerendahan Hati Orang Ini Sebagai Orang Yang Dibenarkan Allah